LHOKSEUMAWE, KINIFAKTUAL | Pelan tapi pasti, tabir gelap yang sempat menyelimuti peristiwa penembakan Muhammad Nasir (48) kini mulai terang. Hal ini sejalan dengan pengakuan dan dugaan keluarga korban. Salah satunya Bustami, adik korban.
Ia mengaku dan menduga abangnya dihabisi oleh salah satu oknum prajurit TNI.
Karena itu, ia menyebut sudah melaporkan peristiwa ini ke Detasemen Polisi Militer (Denpom) IM/1 Lhokseumawe pada Minggu malam lalu.
Sebelumnya diberitakan, Muhammad Nasir (48) ditembak orang tak dikenal (OTK) di Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe. Penjual bakso ini bersimbah darah dan meninggal di tempat.
“Saya tidak terima abang saya disebut punya senjata api. Kakak ada lihat, tentara itu membawa senjata. Tentara yang membawa sepeda motor berinisial MF. Senjatanya seperti berjenis FN, selongsongnya sudah di Polres,” ungkap Bustami melalui sambungan telepon kepada MODUSACEH.CO, Selasa (11/11/2025).
Bustami menyebut, sejak awal pihak POM sempat menyampaikan ada kemungkinan Nasir yang menembak terlebih dulu, karena oknum berinisial MF dikabarkan juga ikut terkena tembakan. Namun, pihak keluarga membantah keras tuduhan tersebut.
Menurut kesaksian Bustami, MF, yang disebut oknum TNI, datang bersama seorang sipil berinisial B yang diduga berasal dari Bireuen. “Katanya, tembakan di kepala abang tembus ke tenggorokan lalu mengenai tangan dan badan MF. Mereka bilang MF sedang dirawat, tapi saat saya tanya dirawat di mana tidak dijawab,” ungkap Bustami.
Sementara itu, sumber media ini menyebut MF sudah diboyong ke Banda Aceh untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara istri korban, kata Bustami, memastikan Nasir tidak memiliki senjata api.
Usai penembakan, kendaraan para pelaku disebut langsung melarikan diri, sementara jasad Nasir tergeletak di ujung jembatan tak jauh dari rumahnya.
Bustami mengaku sempat mencoba memotret surat pelaporan, namun dilarang aparat. “Ini pembunuhan. Jangan sampai ditutup-tutupi. Abang memang sudah pergi, tapi anak-anaknya trauma,” ujarnya.
“Yang mengangkat mayat itu cuma ibu dan dua anak abang, Fikran dan Nadia, yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Mereka perlu pendampingan,” jelas Bustami.
Dari potongan foto surat yang berhasil ia simpan, MODUSACEH.CO melakukan pengecekan terhadap surat tersebut. Hasilnya, tercantum nama seorang pelapor bernama Marlina Yanti, istri korban. Sementara itu, juga tertera nama oknum TNI berpangkat Pratu yang bertugas sebagai provost pada salah satu kesatuan di Lhokseumawe.
Begitupun, dengan tetap berpegang pada asas praduga tak bersalah, media ini belum dapat memastikan apakah foto itu benar merupakan bagian dari surat laporan ke Denpom Lhokseumawe atau bukan, sebab hanya sebagian kecil yang berhasil didokumentasikan keluarga.
Wartawan MODUSACEH.CO liputan Aceh Utara dan Lhokseumawe sempat mengontak kembali Bustami, yang sebelumnya mengaku akan ke Markas Denpom Lhokseumawe guna memperoleh surat laporan tersebut. Namun hingga saat ini belum ada kabar apa pun dari adik keempat Muhammad Nasir itu.
Karenanya, media ini akan terbuka untuk memuat hak jawab dan klarifikasi dari seluruh pihak terkait kasus ini.
Sumber : Modusaceh.co







