2.014 Hektare Sawah Tertimbun Lumpur, Banjir Bandang Picu Gagal Panen di Bireuen

2.014 Hektare Sawah Tertimbun Lumpur, Banjir Bandang Picu Gagal Panen di Bireuen

BIREUN, KINIFAKTUAL | Dampak banjir bandang yang melanda wilayah Bireuen beberapa waktu lalu menghancurkan sektor pertanian secara luas. Ratusan hektare sawah kini berubah wajah, tertutup endapan lumpur tebal hingga menyerupai lapangan terbang.

Kondisi tersebut membuat para petani dipastikan tidak sanggup membersihkan lahan mereka secara mandiri. Endapan lumpur yang begitu tebal menjadikan upaya pembersihan secara manual mustahil dilakukan.

Ansari, seorang petani asal Desa Kubu, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, terlihat duduk termenung di dekat jembatan Pante Lhong yang putus saat hendak menyeberang ke desanya, Kamis (11/12/2025). Dengan nada penuh keputusasaan, ia mengatakan sawah miliknya kini sudah tidak bisa dikenali lagi.

“Saya ada sawah di Desa Kubu, tapi sudah seperti lapangan terbang, lumpur semua dan tebal,” ujarnya.

Menurut Ansari, ratusan hektare sawah di Desa Kubu tertutup lumpur. Kondisi serupa juga dialami petani di Desa Pante Baro, Teupin Raya, serta sejumlah desa lain di Kecamatan Peusangan Siblah Krueng.

Selain tertutup lumpur, para petani juga kesulitan menandai kembali lokasi sawah mereka. Hanya beberapa lahan yang berada dekat perkampungan masih bisa dikenali berkat adanya pohon kayu sebagai penanda. Namun, sawah yang berada di bagian tengah areal pertanian sudah sulit dibedakan.

“Kalau menarik tali saja untuk melihat di mana sawah juga sulit ditandai,” keluh Ansari.

Tidak hanya lahan pertanian, ruas jalan dari Peusangan Siblah Krueng menuju Kutablang juga ikut terdampak. Jalan tersebut kini sulit dilalui akibat endapan lumpur yang menutup permukaannya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Kadistanbun) Bireuen, Mulyadi, SE, MM, menyebutkan bahwa banjir bandang tersebut telah menimbulkan kerusakan parah pada sektor pertanian. Berdasarkan data sementara, sekitar 2.014 hektare sawah tertimbun lumpur, sementara 1.060 hektare lainnya mengalami gagal panen.

“Banyak tanaman padi yang siap panen membusuk, ada yang sedang mengisi bulir juga rusak,” bebernya.

“Kemudian ada yang baru menabur benih juga hancur,” lanjut Mulyadi.

Ia menambahkan, pendataan kerusakan masih terus berlangsung karena akses ke sejumlah lokasi terdampak masih sulit ditempuh akibat jembatan yang terputus.

Dengan kondisi tersebut, sektor pertanian di Bireuen dipastikan mengalami kerugian besar. Lahan pertanian yang rusak dan tertimbun lumpur tidak mungkin dibersihkan oleh petani sendiri tanpa bantuan alat berat serta dukungan pemerintah.

“Intinya, sektor pertanian rusak parah. Petani mengalami kerugian besar dan lahan pertanian tertimbun lumpur,” tegas Mulyadi.

Berita Terhangat

Berita Daerah